RESUME
KEBIJAKAN MONETER (INSTRUMEN-INSTRUMENNYA)
Oleh
: Disti Ilfani Putry Agustine
A.Penjelasan Instumen-Instrumen Kebijakan Moneter
Alat /
instrumen kebijakan moneter yang umum dijelaskan oleh Nopirin (1992 : 46) dan
Mishkin (2001 : 435) sebagai berikut :
a) Operasi pasar terbuka
Operasi pasr terbuka berupa
pembelian dan penjualan sekuritas pemerintah oleh bank sentral sekuritas
pemerintah tersebut biasnya berbentuk obligasi. Pada saat bank sentral
melakukan kegiatan jual-beli skuritas pemerintah tersebut, perekonomian akan dipengaruhi
oleh perubahan jumlah giro cadangan (reserve) institusi financial, perunahan
harga dan hasil (yield) sekuritas, dan perubahan perkiraan (expectation)
keseluruhan perekonomian. Operasi pasar terbuka adalah salah satu kebijakan
politik yang dilakukan oleh bank sentral dengan menambah atau mengurangi jumlah
uang yang beredar dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga.
b) Fasilitas diskonto
Instrument kebijakan moneter ini
berkaitan dengan fasilitas bank-bank untuk meminjam uang secara langsung kepada
bank sentral. Biasanya pinjaman tersebut berbentuk direct advance atau
over-draft yang disekuritisasi dengan asset-aset tertentu. Biaya peminjaman
(bunga) pinjaman itulah yang disebut fasilitas diskonto (discount rate). Fasilitas
diskonto adalah satu kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral dengan menambah
atau mengurangi jumlah uang dengan cara menaikan atau menurunkan tingkat suku
bunga.
c) Cadangan minimum
Kebijakan cadangan minimum adalah
kebijakan bank sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar
dengan cara menaikan atau menurunkan cadangan minimum yang harus dipenuhi oleh
bank umum, dalam mengedarkan atau memberikan kredit kepada masyarakat. Industri
perbankan adalah salah satu industri yang paling banyak diatur oleh
undang-undang. Salah satu bentuk pengaturan tersebut adalah ketentuan cadangan
minimum atau RR yang biasanya ditetapkan berdasarkan undang-undang perbankan
yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
d) imbauan moral
Bank sentral dapat menggunakan imbauan
moral untuk mendorong institusi financial agar membela kepentingan public.
Biasanya, mereka menggunakan imbauan moral untuk meyakinkan para banker dan
manajersenior institusi financial agar lebih memperhatikan kepentingan janka
panjang dari pada kepentingan jangka pendek institusinya.
B.Mekanisme Instrumen Kebijakan Moneter
Instrumen
Kebijakan Moneter
Alat /
instrumen kebijakan moneter yang umum dijelaskan oleh Nopirin (1992 : 46) dan
Mishkin (2001 : 435) sebagai berikut :
1. Operasi
Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Hal ini
dikarenakan dalam pembelian surat berharga misalnya, bank sentral akan menambah
cadangan bank umum yang menjual surat berharga tersebut, akibatnya bank umum
dapat menambah jumlah uang yang beredar (melalui proses penciptaan kredit).
Pada saat bank sentral menjual surat-surat berharga di pasar terbuka, cadangan
bank-bank umum akan menurun. Berikutnya bank-bank ini dipaksa untuk mengurangi
penyaluran kreditnya, dengan demikian akan mengurangi jumlah uang beredar.
Pengaruh yang kedua, tindakan pembelian atau penjualan surat berharga akan
mempengaruhi harga (dan dengan demikian juga tingkat bunga) surat berharga,
sehingga mengakibatkan menurunnya jumlah uang beredar dan meningkatkan tingkat
suku bunga.
Berdasarkan
tujuannya, operasi pasar terbuka dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
• Dynamic open
market operation, yang bertujuan untuk mengubah jumlah cadangan dan monetary
base.
• Defensif open
market operation, yang bertujuan untuk mengontrol faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi jumlah cadangan dan monetary base.
2. Penetapan
Tingkat Diskonto (Discount Policy)
Dengan
menaikkan diskonto, maka biaya untuk meminjam dana dari bank sentral akan naik
sehingga akan mengurangi keinginan bank umum untuk melakukan peminjaman ke bank
sentral. Akibatnya, jumlah uang yang beredar dapat ditekan / dikurangi. Di
samping itu, posisi jumlah cadangan juga dapat dipengaruhi melalui instrumen
ini. Apabila tingkat diskonto mengalami kenaikan, maka akan meningkatkan biaya
pinjaman pada bank. Peningkatan jumlah cadangan ini merupakan indikasi bahwa
bank sentral menerapkan kebijakan moneter yang ketat.
3. Penetapan
Cadangan Wajib Minimum (Reserves Requirements)
Apabila
cadangan wajib minimum diturunkan, maka akan mengakibatkan terjadinya
peningkatan jumlah deposito sehingga jumlah uang beredar cenderung meningkat,
dan sebaliknya apabila cadangan wajib minimum dinaikkan, maka akan mengurangi
jumlah deposito yang akhirnya akan menurunkan jumlah uang yang beredar.
Indikator
empirik untuk kebijakan moneter yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
:
a. Jumlah uang
beredar (M2), yaitu jumlah seluruh uang yang beredar yang terdiri dari M1(uang
kartal dan uang giral) ditambah dengan uang kuasi.
b. Bunga
deposito 1 bulan (Depo1)
c. Tingkat suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
d. Nilai tukar
rupiah terhadap dollar Amerika
e. Inflasi
C.Instrumen ini di Pandang dari Islam dan Intrumen Islam itu
sendiri
Semua
intrumen di atas memiliki karakteristik dan proses kerja berbeda, yang
sesungguhnya dirancang atas asumsi situasi ekonomi yang sedang atau akan
terjadi. Instrumen (1) Target pertumbuhan M dan M0, merupakan instrument
kebijakan moneter dalam rangka mengatur jumlah uang beredar dengan melakukan
tiga alokasi jumlah uang yang ada. Alokasi tersebut dibagi untuk pemerintah,
bank komersial, dan LKS lainnya. Akan tetapi alokasi tersebut harus sesuai
dengan target pertumbuhan yang telah ditentukan, sehingga jumlah uang beredar
tidak akan berlebihan atau kekurangan.
Adapun
instrument (2) Saham publik terhadap
deposito unjuk, diartikan sebagai langkah instrumen kebijakan moneter dengan
menganjurkan adanya mobilisasi dana dari bank komersil yang terkumpul dalam
deposito untuk dialirkan kepada pemerintah, sehingga pemerintah memilki
pendapatan lain selain pajak yang akan dgunakan untuk membiayai proyek-proyek
kesejahteraan social, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan optimalisasi
output (GDP) dan stabilisasi harga. Instrument (3) dan instrument (4)
dihadirkan hampir sejenis dengan instrument pada kebijakan konvensional, akan
tetapi yang membedakan ialah tingkat suku bunganya. Pada instrument (3) ini,
ketika pemerintah ingin melakukan monetary expansive maka rasio cadangan wajib
diturunkan, sedangkan ketika kebijakan yang diambil ialah monetary contractive
maka langkah yang dilakukan ialah sebaliknya. Selanjutnya di instrument (4)
otoritas moneter membuat batasan atas alokasi kredit yang harus dikucurkan,
baik dalam keadaan ekonomi booming ataupun resesi. Hal ini dilakukan untuk
menghindari adanya decoupling (kesenjangan sector moneter-sektor riil),
sehingga roda perekonomian akan berjalan beriringan. Intrumen (4) Pembatasan
kredit, dilakukan berbarengan dengan instrument (5) Alokasi kredit yang
berorientasi pada nilai. Berorientasi pada nilai dimaknai dengan kegiatan
kredit yang dikucurkan bagi kegiatan-kegitan masyarakat dalam menyediakan
barang/jasa yang dibutuhkan bersama dan alokasi bagi kegiatan wirausaha untuk
usaha kecil dan menengah (UMKM).
Terakhir
instrumen (6) tekhnik lain, dilakukan dengan cara-cara lain yang mampu dan
telah banyak digunakan di negra islam lainnya, antara lain moral suasion, OMO
(SUKUK), Refinance ratio, dan rasio peminjaman. Dengan sejumlah intrumen
berdasrkan pemikiran Umer Chapra ini, Islam dapat menjalankan kebijakan
moneternya dengan tanpa menggunakan variabel bunga. Penjelasan mengenai
bagaimana instrument-instrumen dalam kebijakan moneter islam bekerja dalam
mengatur peredaran jumlah uang beredar, sejelasnya telah disebutkan pada studi
literatur diatas. Selanjutnya, studi alternatif-kritis mengenai instrument
kebijakan moneter konvensional dalam pemikiran Umer Chapra dapat disederhanakn
lebih jelas dibuat tabel di bawah ini:
|
Instrumen
KebijakanMoneter Konvensional*
|
Instrumen
Kebijakan Moneter
Islam**
|
|
(1) Operasi Pasar terbuka
|
(1) Target pertumbuhan M dan M0
|
|
(2) Fasilitas Diskonto
|
(2) Saham publik terhadap deposito unjuk
|
|
(3) Rasio Cadangan Wajib
|
(3) Cadangan wajib resmi
|
|
(4) Imbauan Moral
|
(4) Pembatasan kredit
|
|
|
(5) Alokasi kredit yang berorientasi pada nilai
|
|
|
(6)Tekhnik Lain; Moral suasion, OMO (SUKUK), refinance
ratio, rasio peminjaman
|
Keterangan :
* Instrumen
kebijakan moneter konvensional digerakkan melalui variabel bunga
** Instrumen
kebijakan moneter Islam digerakkan melalui rasio bagi hasil ataupun variabel
lain selain suku bunga.
1. Kebijakan
moneter konvensional belum mampu mewujudkan tujuan jangka pendek (optimalisasi
output & stabilisasi harga) ataupun jangka panjang (kesejahteraan) dari
adanya kebijakan moneter dikarenakan masih menggunakan instrument kebijakan
moneter yang berdasarkan variabel suku bunga. Sebagai alternatif, instruemn
kebijakan moneter islam yang tidak didasarkan pada variabel suku bunga diduga
dapat mewujudkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang.
2. Instrument-instrumen
kebijakan moneter Islam yang dijadikan alternatif berdasarkan pemikiran Umer
Chapra ialah target pertumbuhan M dan M0, saham publik terhadap deposito unjuk,
cadangan wajib resmi, pembatasan kredit, alokasi kredit yang berorientasi
nilai, dan tekhnik lain (Moral suasion, OMO/SUKUK, refinance ratio, rasio
peminjaman).
