TEORI
KONSUMSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
A.
Teori konsumsi dalam perspektif
konvensional
Dalam ekonomi konvensional, konsumen
diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan(utility) dalam kegiatan
konsumsinya semata. Utility secara bahasa berarti berguna, membantu atau
menguntungkan.
Menurut Samuelson (2000) konsumsi
adalah kegiatan menghabiskan utility (nilai guna) barang dan jasa. Barang
meliputi barang tahan lama dan barang tidak tahan lama. Barang konsumsi menurut
kebutuhannya, yaitu : kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan
tersier.
Teori konsumsi biasa dikatakan pula
yaitu seluruh pengeluaran baik rumah tangga atau masyarakat maupun pemerintah.
B.
Teori konsumsi dalam perspektif
islam
Dalam pendekatan ekonomi islam,
menurut MA Manan(1997;44) konsumsi adalah permintaan sedangkan produksi adalah
penawaran atau penyediaan. Menurut beliau perbedaan ilmu ekonomi konvensional
dan ekonomi islam dalam hal konsumsi terletak pada cara pendekatannya dalam
memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui kegemaran materialistis
semata-mata dari pola konsumsi konvensional.
Islam adalah agama yang ajarannya
mengatur segenap prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian
pula dalam masalah konsumsi, Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan
kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemashlahatan
hidupnya. Seluruh aturan Islam mengenai aktivitas konsumsi terdapat dalam
al-Qur’an dan as-Sunnah. Prilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan
al-Qur’an dan as-Sunnah ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan
kesejahteraan hidupnya.
-
Faktor-Faktor utama yang memengaruhi
tingat konsumsi adalah Pendapatan, dimana korelasi keduanya bersifat positif,
yaitu semakin tinggi tingkat pendapatan (Y) maka konsumsinya (C) juga makin
tinggi : C = f(Y).
- Teori Konsumsi Keynes
Menurut John Maynard Keynes, jumlah konsumsi saat ini
(current disposable income) berhubungan langsung dengan pendapatannya. Hubungan
antara kedua variabel tersebut dapat dijelaskan melalui fungsi konsumsi. Fungsi
konsumsi menggambarkan tingkat konsumsi pada berbagai tingkat pendapatan.
C = a +bY => FUNGSI KONSUMSI
Keterangan : C = konsumsi seluruh
rumah tangga (agregat)
a = konsumsi otonom, yaitu
besarnya konsumsi ketika pendapatan nol (merupakan konstanta)
b = marginal propensity to consume (MPC)
Y = pendapatan disposable
Dalam hal ini, pendapatan (Y) yang
dimaksud oleh Keynes adalah :
- Pendapatan riil/nyata (yang menggunakan tingkat harga konstan), bukan pendapatan nominal
- Pendapatan yang terjadi (current income), bukan pendapatan yang diperoleh sebelumnya, dan bukan pula pendapatan yang diperkirakan terjadi di masa datang (yang diharapkan)
- Pendapatan absolut, bukan pendapatan relatif atau pendapatan permanen.
b adalah marginal propensity to
consume (MPC) atau kecenderungan mengonsumsi marginal, yaitu berapa konsumsi
bertambah bila pendapatan bertambah. Dan secara matematis dapat dirumus :
MPC
= perubahan C dibagi dengan perubahan Y atau MPC = C/Y
Dalam kurva konsumsi, MPC
menunjukkan kemiringan/kecondongan (slope) kurva konsumsi. Marginal
propensity to save (MPS) adalah berapa tabungan bertambah karena
bertambahnya pendapatan.
MPC
= perubahan S dibagi dengan perubahan Y atau MPC = S/Y
Dimana : S = tabungan dan Y =
pendapatan.
Dalam kurva tabungan, MPS
menunjukkan kemiringan/kecondongan (slope) kurva tabungan.
MPC
+ MPS = 1. berarti MPS = 1 - MPC
Tidak semua pendapatan digunakan
untuk konsumsi, melainkan sebagian ditabung (S).
Y
= C + S
C
= a + bY
Y
= a + bY + S
S
= -a + Y - bY
S
= -a + (1-b)Y
Karena : 1-b = MPS, maka
S = -a + MPS(Y) atau
S = -a +sY => FUNGSI TABUNGAN
dimana : s = MPS = 1-MPC = 1-b
- Faktor - Faktor Penentu Tingkat Konsumsi
- Pendapatan rumah tangga (Household income), semakin besar pendapatan, semakin besar pula pengeluaran untuk konsumsi.
- Kekayaan rumah tangga (Household wealth), semakin besar kekayaan, tingkat konsumsi juga akan menjadi semakin tinggi. Kekayaan misalnya berupa saham, deposito berjangka, dan kendaraan bermotor.
- Prakiran masa depan (Household expectations), bila masyarakat memperkirakan harga barang-barang akan mengalami kenaikan, maka mereka akan lebih banyak membeli/belanja barang-barang.
- Tingkat bunga (Interest rate), bila tingkat bunga tabungan tinggi/naik, maka masyarakat merasa lebih untung jika uangnya ditabung daripada dibelanjakan. berarti antara tingkat bunga dengan tingkat konsumsi memepunyai korelasi negatif.
- Pajak (Taxation), pengenaan pajak akan menurunkan pendapatan disposable yang diterima masyarakat, akibatnya akan menurunkan konsumsinya.
- Jumlah dan Konsunsi penduduk, jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi. Sedangkan komposisi penduduk yang didominasi penduduk usia produktif/usia kerja (15-64 tahun) akan memperbesar tingkat konsumsi.
- Faktor sosial budaya, misalnya, berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih modern. Contohnya adalah berubahnya kebiasaan oranng Indonesia berbelanja dari pasar tradisional ke pasar swalayan (super market).
http://ekonomikonvensionaldanekonomiislam.blogspot.com/2011/10/pengertian-konsumsi.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar